Peringati Hari Sumpah Pemuda, YBPN Bersama Pemuda Desa Banjarkemantren Gelar Pentas Seni Budaya Munali Patah

SIDOARJO –¬†Tidak banyak yang tahu, Salah satu maestro tari remo dan ludruk berasal dari desa ini. Desa bernama Banjarkemantren yang terletak di kecamatan Buduran ini merupakan Desa tempat lahirnya sang maestro bernama Munali Patah. Kesadaran untuk menghidupkan kembali spirit atau semangat perjuangan maestro budaya ini muncul dari gerakan kolektif yang dibangun oleh teman-teman Komunitas Kabut Malam bersama Karang Taruna.

Melalui serangkaian kegiatan peringatan Hari Sumpah Pemuda yang diperingati setiap tanggal 28 Oktober, Kabut Malam bersama Karang Taruna serta didukung oleh Yayasan Bimasakti Peduli Negeri menggelar beberapa kegiatan seperti workshop tari remo Munali Patah untuk siswa-siswi di beberapa sekolah dasar yang ada di desa, yakni SDN Banjarkemantren I, SDN Banjarkemantren II dan MIN 1 Sidoarjo.

Penampilan Remo Munali Patah pada pentas seni rakyat desa Banjarkemantren dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda

Kegiatan yang sudah terlaksana di awal Oktober ini diikuti oleh setidaknya 50 orang siswa-siswi dari ketiga sekolah dengan pemateri yang merupakan anak kedua dari Munali Patah, Uriyati. Puncaknya, pada tanggal 21-22 Oktober, digelarlah Pagelaran Seni Rakyat sebagai ujung peringatan Hari Sumpah Pemuda yang diselenggarakan dengan semangat kolektif, kolaborasi dan edukasi melibatkan berbagai macam pihak, mulai dari UMKM Desa yang support, bank daerah hingga Yayasan Bimasakti Peduli Negeri.

Konten acaranyapun meriah, mulai dari penampilan tari-tarian tradisional dan kreasi dari sanggar tari Kabut Malam yang notabene penarinya adalah anak-anak desa Banjarkemantren, Banjari, Wayang Blang Bleng oleh Ki Ompong Soedarsono hingga penampilan Ludruk Luntas Surabaya.

Tidak hanya menampilkan sederet pagelaran seni budaya, acara yang diselenggarakan di Lapangan Sanggar Belajar Masyarakat ini layaknya sebuah pasar malam penuh dengan pegiat UMKM desa Banjarkemantren, Odong-Odong hingga permainan memancing untuk anak-anak dibawah 5 tahun. Disampaikan oleh Wahyu, ketua Kabut Malam bahwa acara Pagelaran Seni Rakyat ini selain untuk memperingati Hari Sumpah Pemuda, juga menjadi sebuah misi edukasi kepada masyarakat desa tentang sosok sang maestro, Munali Patah.

Penampilan Wayang Blang Bleng pada pentas seni rakyat desa Banjarkemantren dalam rangka peringatan Sumpah Pemuda

Pada malam itu, penampilan Ki Ompong Soedarsono dengan wayang blang-blengnya mampu menarik antusias anak-anak kecil berkumpul untuk melihat pertunjukannya. Pentas seni rakyatpun ditutup dengan penampilan ludruk modern Luntas Surabaya membawakan ceritera Tumpeng Maut yang merupakan naskah gubahan dari karya Kartolo CS. Cak Robert, yang merupakan pimpinan ludruk Luntas mengatakan dirinya merasa senang bisa menghibur warga desa Banjarkemantren.

“Kami senang, karena bersama dengan teman-teman kabut malam, kami bisa menghidupkan kembali semangat dan perjuangan dari sang maestro Munali Patah. Cak Munali Patah ini dulunya adalah teman dari Cak Durasim, harusnya beliau juga merupakan pahlawan kemerdekaan, jadi saya senang bisa kembali menggugah kesadaran dan kebanggaan warga desa Banjarkemantren karena memiliki Cak Munali Patah,” jelasnya.

 

 

Back to top